Aku, Esok hari mati~
Perasaan
esok akan mati dapat menumbuhkan motivasi diri untuk menjadi lebih
baik. Terkadang perasaan dekat dengan ajal mengantarkan kita pada
kondisi jiwa yang damai. Hidup menjadi tidak lagi berpanjang dengan
angan-angan. Kita tiba-tiba saja hidup dalam efektivitas tinggi. Karena
yang kita rasa hanya berkait pada satu hal : Bagaimana sisa umur ini
bisa menjadi sisa yang terbaik, Bagaimana agar hidup didunia ini bukan
sekedar menjadi orang yang numpang lewat, Bagaimana menghasilkan karya
yang nantinya dapat menjadikan amal tiada putus saat berada di alam
selanjutnya.
Tak jarang kita mendengar orang yang divonis oleh
dokter, hidupnya tinggal beberapa bulan saja karena penyakit yang
diidapnya tak dapat disembukan, tiba-tiba yang tervonis menjadi manusia
yang luar biasa produktif. Detik-detik waktunya ia habiskan menebar
manfaat, menghasilkan karya untuk bisa dinikmati generasi dibawahnya,
yang terpenting waktu-waktunya ia habiskan untuk berhijrah menuju
kebaikan. Seolah setiap nafas yang dihembuskan harus ia bayar lunas,
tiap detak jantungnya menjadi sangat bernilai, dan merasa rugi jika
tidak dipergunakan untuk kebaikan.
Orang yang divonis HIV, tak
jarang mereka dengan ikhlas mengabdikan diri menjadi aktivis anti seks
bebas dan anti narkoba. Ia menjungkir balik sejarah hidupnya, dari
manusia yang sifat-sifatnya buruk menjadi manusia yang diliputi
sifat-sifat kebaikan.
Hidup didunia hanyalah sebentar, setiap
perbuatan akan mendapatkan balasan setimpal. Setiap detik waktu yang
terlewat akan dipertanggungjawabkan di padang Mahsyar nanti. Mari
pergunakan waktu kita seproduktif mungkin. Merencanakan alur jalan
kebaikan untuk kehidupan selanjutnya. Bekerja dengan sepenuh hati agar
bernilai ibadah. Bukan uang yang dituju, tapi keridhoan. Berkarya dengan
ikhlas, bukan untuk mendapatkan royalti. Biarkanlah Alloh yang membayar
kita nanti di Akhirat dengan beratnya timbangan amal kebaikan kita.
Aamiin
0 komentar:
Posting Komentar