Aku cemburu melihat orang yang ikhlas membantu sesama bahkan dalam keterbatasan yang mereka miliki.
Aku cemburu pada orang-orang yang lebih banyak bersyukur dan gemar
berbagi, padahal yang didapatkan sama bahkan tidak lebih dari aku.
Aku cemburu pada mereka yang dalam kondisi tersempit sekalipun masih bisa meluangkan untuk berbagi dan semakin mencintai Allah.
Aku cemburu pada mereka yang begitu rajin chatting dengan Allah dalam tahajjud.
Aku cemburu saat melihat dan mendengar seorang wanita membaca ayat suci
Al Quran dengan begitu indah dan mempesona sementara aku biasa saja.
Aku cemburu kepada hamba Allah yang bisa menghafal Al Quran 30 juz dan
selalu bersemangat karena hidup ini untuk beribadah kepada Allah.
Aku cemburu pada orang yang setiap pekan bisa melingkar bersama para gurunya menuntut ilmu.
Aku cemburu pada waktu yang kulalaikan dari-Nya dan tak mungkin kembali. Ingin kembali dan bermohon ampun mengharap cinta-Nya.
Aku cemburu pada bidadari di surga, diciptakan untuk lelaki yang
shalih. Sedangkan aku harus terus memperbaiki diri agar ia cemburu
padaku.
Aku cemburu pada mereka yang selalu disayangi oleh sahabat dan orang-orang terdekatnya.
Aku cemburu pada mereka yang berprestasi, dan selalu bisa diandalkan.
Aku cemburu pada mereka yang selalu ontime dan rapi dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Aku cemburu pada orang-orang yang selalu bisa membagi waktunya dengan
baik.., untuk beribadah, bekerja, belajar, berdakwah, menulis dan
berkumpul dengan keluarganya.
Dan aku cemburu pada
sahabat-sahabat ku yang telah menggenapkan setengah diennya, mempunyai
keluarga bahagia dan anak-anak yang membanggakan.
Rabb bantu
kami menjadi seperti mereka. Berikan keistiqamahan, kesabaran dan
keikhlasan bagi kami dalam menjalani kehidupan ini. Jauhkan kami dari
rasa malas dan perbuatan yang sia-sia. Dan mudahkan kami untuk terus
memperbaiki diri. Aamiin.
Jumat, 03 Januari 2014
Rabu, 01 Januari 2014
Aku, Esok hari mati~
Perasaan
esok akan mati dapat menumbuhkan motivasi diri untuk menjadi lebih
baik. Terkadang perasaan dekat dengan ajal mengantarkan kita pada
kondisi jiwa yang damai. Hidup menjadi tidak lagi berpanjang dengan
angan-angan. Kita tiba-tiba saja hidup dalam efektivitas tinggi. Karena
yang kita rasa hanya berkait pada satu hal : Bagaimana sisa umur ini
bisa menjadi sisa yang terbaik, Bagaimana agar hidup didunia ini bukan
sekedar menjadi orang yang numpang lewat, Bagaimana menghasilkan karya
yang nantinya dapat menjadikan amal tiada putus saat berada di alam
selanjutnya.
Tak jarang kita mendengar orang yang divonis oleh
dokter, hidupnya tinggal beberapa bulan saja karena penyakit yang
diidapnya tak dapat disembukan, tiba-tiba yang tervonis menjadi manusia
yang luar biasa produktif. Detik-detik waktunya ia habiskan menebar
manfaat, menghasilkan karya untuk bisa dinikmati generasi dibawahnya,
yang terpenting waktu-waktunya ia habiskan untuk berhijrah menuju
kebaikan. Seolah setiap nafas yang dihembuskan harus ia bayar lunas,
tiap detak jantungnya menjadi sangat bernilai, dan merasa rugi jika
tidak dipergunakan untuk kebaikan.
Orang yang divonis HIV, tak
jarang mereka dengan ikhlas mengabdikan diri menjadi aktivis anti seks
bebas dan anti narkoba. Ia menjungkir balik sejarah hidupnya, dari
manusia yang sifat-sifatnya buruk menjadi manusia yang diliputi
sifat-sifat kebaikan.
Hidup didunia hanyalah sebentar, setiap
perbuatan akan mendapatkan balasan setimpal. Setiap detik waktu yang
terlewat akan dipertanggungjawabkan di padang Mahsyar nanti. Mari
pergunakan waktu kita seproduktif mungkin. Merencanakan alur jalan
kebaikan untuk kehidupan selanjutnya. Bekerja dengan sepenuh hati agar
bernilai ibadah. Bukan uang yang dituju, tapi keridhoan. Berkarya dengan
ikhlas, bukan untuk mendapatkan royalti. Biarkanlah Alloh yang membayar
kita nanti di Akhirat dengan beratnya timbangan amal kebaikan kita.
Aamiin
Minggu, 29 Desember 2013
ketika cinta bertajwid
Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah. hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar. Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada. Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang. Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta. Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba - tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya. Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras. Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu. Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’. Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. DIA atau aku? Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas. Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya. Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat. Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu. Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku. Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu. Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun
Langganan:
Komentar (Atom)
