Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

time is money

Jumat, 03 Januari 2014

Aku cemburu

Aku cemburu melihat orang yang ikhlas membantu sesama bahkan dalam keterbatasan yang mereka miliki.

Aku cemburu pada orang-orang yang lebih banyak bersyukur dan gemar berbagi, padahal yang didapatkan sama bahkan tidak lebih dari aku.

Aku cemburu pada mereka yang dalam kondisi tersempit sekalipun masih bisa meluangkan untuk berbagi dan semakin mencintai Allah.

Aku cemburu pada mereka yang begitu rajin chatting dengan Allah dalam tahajjud.

Aku cemburu saat melihat dan mendengar seorang wanita membaca ayat suci Al Quran dengan begitu indah dan mempesona sementara aku biasa saja.

Aku cemburu kepada hamba Allah yang bisa menghafal Al Quran 30 juz dan selalu bersemangat karena hidup ini untuk beribadah kepada Allah.

Aku cemburu pada orang yang setiap pekan bisa melingkar bersama para gurunya menuntut ilmu.

Aku cemburu pada waktu yang kulalaikan dari-Nya dan tak mungkin kembali. Ingin kembali dan bermohon ampun mengharap cinta-Nya.

Aku cemburu pada bidadari di surga, diciptakan untuk lelaki yang shalih. Sedangkan aku harus terus memperbaiki diri agar ia cemburu padaku.

Aku cemburu pada mereka yang selalu disayangi oleh sahabat dan orang-orang terdekatnya.

Aku cemburu pada mereka yang berprestasi, dan selalu bisa diandalkan.

Aku cemburu pada mereka yang selalu ontime dan rapi dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Aku cemburu pada orang-orang yang selalu bisa membagi waktunya dengan baik.., untuk beribadah, bekerja, belajar, berdakwah, menulis dan berkumpul dengan keluarganya.

Dan aku cemburu pada sahabat-sahabat ku yang telah menggenapkan setengah diennya, mempunyai keluarga bahagia dan anak-anak yang membanggakan.

Rabb bantu kami menjadi seperti mereka. Berikan keistiqamahan, kesabaran dan keikhlasan bagi kami dalam menjalani kehidupan ini. Jauhkan kami dari rasa malas dan perbuatan yang sia-sia. Dan mudahkan kami untuk terus memperbaiki diri. Aamiin.
Rabu, 01 Januari 2014

Aku, Esok hari mati~

Perasaan esok akan mati dapat menumbuhkan motivasi diri untuk menjadi lebih baik. Terkadang perasaan dekat dengan ajal mengantarkan kita pada kondisi jiwa yang damai. Hidup menjadi tidak lagi berpanjang dengan angan-angan. Kita tiba-tiba saja hidup dalam efektivitas tinggi. Karena yang kita rasa hanya berkait pada satu hal : Bagaimana sisa umur ini bisa menjadi sisa yang terbaik, Bagaimana agar hidup didunia ini bukan sekedar menjadi orang yang numpang lewat, Bagaimana menghasilkan karya yang nantinya dapat menjadikan amal tiada putus saat berada di alam selanjutnya.

Tak jarang kita mendengar orang yang divonis oleh dokter, hidupnya tinggal beberapa bulan saja karena penyakit yang diidapnya tak dapat disembukan, tiba-tiba yang tervonis menjadi manusia yang luar biasa produktif. Detik-detik waktunya ia habiskan menebar manfaat, menghasilkan karya untuk bisa dinikmati generasi dibawahnya, yang terpenting waktu-waktunya ia habiskan untuk berhijrah menuju kebaikan. Seolah setiap nafas yang dihembuskan harus ia bayar lunas, tiap detak jantungnya menjadi sangat bernilai, dan merasa rugi jika tidak dipergunakan untuk kebaikan.

Orang yang divonis HIV, tak jarang mereka dengan ikhlas mengabdikan diri menjadi aktivis anti seks bebas dan anti narkoba. Ia menjungkir balik sejarah hidupnya, dari manusia yang sifat-sifatnya buruk menjadi manusia yang diliputi sifat-sifat kebaikan.
Hidup didunia hanyalah sebentar, setiap perbuatan akan mendapatkan balasan setimpal. Setiap detik waktu yang terlewat akan dipertanggungjawabkan di padang Mahsyar nanti. Mari pergunakan waktu kita seproduktif mungkin. Merencanakan alur jalan kebaikan untuk kehidupan selanjutnya. Bekerja dengan sepenuh hati agar bernilai ibadah. Bukan uang yang dituju, tapi keridhoan. Berkarya dengan ikhlas, bukan untuk mendapatkan royalti. Biarkanlah Alloh yang membayar kita nanti di Akhirat dengan beratnya timbangan amal kebaikan kita. Aamiin
Minggu, 29 Desember 2013

ketika cinta bertajwid


Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah. hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar. Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada. Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang. Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta. Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba - tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya. Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras. Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu. Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’. Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. DIA atau aku? Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas. Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya. Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat. Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu. Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku. Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu. Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun